Kamis, 03 Juli 2014

OSPEK 2014

Ospek 2014
Selamat datang kawan-kawan baru PKnH 2014. Selamat bergabung di keluarga besar HIMA PKnH. Tempat berkarya dan membangun bangsa.
Info Ospek : 

Technical Meeting I OSPEK FIS UNY 2014 : Rabu, 13 Agustus 2014
Technical Meeting II OSPEK FIS UNY 2014 : Rabu, 20 Agustus 2014
Technical Meeting 1 OSPEK PKnH 2014 : Rabu, 13 Agustus 2014
Technical Meeting II OSPEK PKnH 2014 : Kamis, 21 Agustus 2014
(Info Sementara)

Siapa Dalang Black Campaign Pilpres 2014 Sebenarnya??

Siapa Dalang Black Campaign Pilpres 2014 Sebenarnya??
Oleh. Ikhwanul Bekti Trian Putri

Dibalik maraknya pesta demokrasi di Indonesia 9 Juli 2014, mencuat sebuah perilaku unik yang sebagian orang cenderung menganggapnya sebagai perilaku disintegritas atau perilaku tidak terhormat yang dilakukan oleh sekelompok oknum-oknum tidak bertanggungjawab. Kampanye hitam (Black Campaign), demikian orang menyebutnya. Cara kerja perilaku tersebut yaitu dengan menyebarkan isu, rumor atau pemikiran yang belum tentu dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya pada media-media tertentu dengan tujuan untuk menjatuhkan lawan politik atau kubu politik yang berseberangan. Black Campaign atau kampanye hitam adalah jenis aktivitas seruan berupa materi kampanye yang tidak sesuai dengan kenyataan atau mengada-ada. Kampanye hitam di sini mewakili sebuah istilah yang buruk, jelek, intinya patut dijauhi. Selanjutnya di dalam penggunaannya diartikan kampanye menjelekkan lawan politik. Namun, sebenarnya juga dapat diartikan sebagai kampanye yang buruk. Isi kampanye cenderung mengandung fitnah dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Bagaimana tidak sekarang mudah kita jumpai di berberapa media maupun jejaring sosial  banyak orang entah dari kalangan politik maupun kalangan akar rumput yang menyebarkan isu maupun rumor yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Berdasarkan survei piktochart, 80% Black Campaign serangan media pada capres Prabowo Subianto adalah black campaign. Karena Prabowo menerima serangan dengan materi terkait isu HAM dan rencana kudeta. 20% Negative Campaign yang memang secara fakta telah terjadi dengan isu pada keluarga yang tidak harmonis. Capres Jokowi, 90% serangan berupa Negative Campaign artinya memang fakta yang ada pada Jokowi, misalnya terungkap fakta setelah media melakukan investigasi dan ternyata ditemukan kebohongan dan pencitraan didalamnya, seperti kasus mobil ESEMKA, Pasar Tanah Abang, MRT, Busway Transjakarta yang gagal, Jokowi didukung aliran sesat syiah katholik Vatikan dan protestan James Riady, Mafia hitam koruptor BLBI dan mantan Jenderal yang terlibat kerusuhan Mei 1998 adalah fakta riil dilapangan. 10% sisanya adalah black campaign. (Sumber Kompasiana)
Ada anggapan bahwa Black Campaign yang dilakukan oleh pihak Jokowi-JK adalah oknum-oknum yang bersimpati dengan Jokowi-JK agar kandidat nomor 2 ini kelihatan tedzolimi. Lihat saja dari gaya penulisan, gaya bahasa, dan komentarnya, yang biasanya tentang fitnah dan kejelekan Jokowi, semata-mata agar Jokowi terkesan didhzolimi. Belum lagi dari kubu Prabowo-Hatta yang banyak beredar Black Campaign yang sangat keji menjatuhkan nama baiknya sebagai Capres dan Cawapres. Bukan hal baru lagi di beberapa media yang menyatakan jelas pernyataan seperti itu. Bagaimana jika di media oknum-oknum tersebut sengaja membuat isu, maupun informasi yang bersifat menjatuhkan dan oknum lain saling berbalas-balasan saling menjatuhkan satu sama lain, mau jadi apakah bangsa ini. Maka dari itu menjadi rakyat  yang cerdas sudah sepantasnya kita meyakinkan dan mengajak orang-orang disekeliling kita untuk selektif memilih jangan terpengaruh dengan Black Campaign yang belum tentu benar di media masa, pilih lah dengan hati nurani dan logika yang baik demi kemajuan dan perbaikan bangsa ini.
Selain itu sudah selayaknya bangsa ini menjadi dewasa dalam menyikapi black campaign. Bagaimanapun juga, black campaign masih merupakan bagian dari strategi pemenangan dan masih mampu memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Apalagi bagi kaum akar rumput yang belum banyak pengetahuan mengenai dunia politik. Berpikir dengan kepala jernih bukan saja dapat memahami black campaing secara lebih bijak sebagai sebuah fenomena sosial yang muncul secara alamiah pada bangsa yang masih remaja dalam bernegara dan berdemokrasi, tetapi juga mampu menghindari perpecahan akibat ulang orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Suara rakyat akan tetap menjadi kekuatan utama, meski sebuah suara dapat dibeli tapi yakinlah suara Tuhan untuk menentukan siapa pemimpin yang tepat untuk bangsa ini tak akan bisa di beli.

Rabu, 02 Juli 2014

LOMBA ESAI PKn 2014

Lomba esai PKn 2014 yang mengambil tema "Pembangunan Moral dan Karakter Anak Bangsa Melalui Pancasila"
*Dengan Sub Tema :
1. Pendidikan sebagai upaya melahirkan generasi emas indonesia
2. Optimalisasi pendidikan karakter dalam pendidikan nasional
3. Pancasila, cita-cita pandangan hidup masyarakat indonesia
4. Peran pancasila dalam pembangunan moral dan karakter warganegara
*Syarat :
1. Mahasiswa Aktif S1 dan D3 UNY
2. Satu peserta maksimal mengirimkan 2 Naskah / Karya
3. Merupakan karya orisinil dan belum pernah dipublikasikan maupun diikutsertakan dalam kompetisi
*Ketentuan
1. Pengumpulan karya dimulai sejak tanggal 3 Juni 2014 - 1 September 2014
2. esai dapat dikirim melalui email : lombaesaipknuny@gmail.com
3. Format penulisan : Font Times New Roman: size12 : Spasi 1,5: Margin 4,4,3,3: Ukuran kertas A4
4. Naskah minimal 3 halaman maksimal 5 halaman
5. Melampirkan biodata diri
6. Pengumuman 8 September 2014
*Hadiah
Juara 1 : Sertifikat, Piala, Piagam, Uang pembinaan
Juara 2 : Sertifikat, Piala, Piagam, Uang pembinaan
Juara 3 : Sertifikat, Piala, Piagam, Uang pembinaan
Setiap peserta akan mendapatkan Sertifikat
*Pembayaran
1. Pembayaran dapat dilakukan melalui rekening BPD DIY an Vallen Arga (402 231 008139)
2. Pembayaran langsung datang ke Hima PKnH FIS UNY (Gedung PKM FIS Lantai 2) setiap hari Senin-Kamis
3. Kontribusi Per-Karya Rp. 10.000

Cp. 085726299908 (Andi)
081802702606 (Ardhita)

Jumat, 20 Juni 2014

Latihan Dasar Kepemimpinan PKnH 2014


Yogyakarta: 31/05/2014, Ruang Cut Nyak Dien pagi ini mengalami guncangan yang luar biasa. Kegiatan HIMA PKnH yang luar biasa mulai menggema. Latihan kepemimpinan atau yang disebut dengan LDK PKnH berjalan dengan lancar. Kegiatan yang berlangsung pada hari sabtu (31/05/2014). Acara ini merupakan acara dari Divisi Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa HIMA PKnH FIS UNY. “agenda ini merupakan agenda kedua PSDM” tutur diah selaku kepala divisi PSDM HIMA PKnH.
“Acara ini dilaksanakan sebagai awal dari pembentukan jiwa kepemimpinan panitia OSPEK dan SIKRAB PKnH 2014” ujar puput selaku ketua kegiatan LDK. Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 diawali dengan pelatihan public speaking dan soft skill yang dibersamai oleh kepala Humas FIS ibu Pratiwi Wahyu Wirdiarti, M.Si. “percaya diri datang dari pengalaman yang berlimpah” tutur beliau. Tentunya panitia Ospek dan Sikrab perlu menambahkan bahwasannya “pengalaman yang banyak didapat dari banyaknya mencoba hal-hal yang baru” tambah beliau.
Acara kemudian dilanjutkan dengan materi latihan kepemimpinan yang diisi oleh Wahyudi Iman Satria. “Pemimpin itu penting, setiap kita yang ada disini semuanya adalah pemimpin” ucap beliau dalam mengisi acara LDK.

Tak berhenti disana acara dilanjutkan dengan pelatihan yang dibersamai dengan kakak-kakak trainer. Acara dilaksanakan sampai pukul 15.00 WIB. Setelah itu ada pembekalan dari kakak DPO “Tetap jaga kekompakan, kepanitiaan pastilah tidak ada yang sempurna dan pasti ada konflik di dalamnya” tutur kakak DPO. Acara LDK diakhiri dengan acara makan tumpeng bersama, “hal tersebut di maksudkan untuk mengakrabkan teman-teman agar lebih kompak nantinya” tutur ketua panitia LDK PKnH 2012. (Murni Lestari)

Panitia Ospek Jurusan PKnH 2014
Ketua : Ahmad khoeroni
Sekertaris : Septi w
Bendahara : Astri novianingrum
Sie. Acara : Ikhwanul bekti trian putri

-Hryo wisnu murti
-Hikmah
-Nanang dakusta
-Riska mega P
Sie. Humas : Anisa nurul khasanah
-Niken laksmita dewi
-Erlinda ika mawarti
Sie. Konsumsi: Fitri dwi astuti
-Rani
-Septi H
-Maryam
-Yanra sutriaji
Sie. Pemandu : Achmad modrik b
-Angen kinanti
-Dewi fita
-Fuad syarifudin
-Nurlita andari
-Vina febriana
Sie. PDD : Eben yuan
-Irmawati
-Lilin avinia
-Rusli dwi eko
Sie. Perkap : Ayu nurul naharoh
-Dias endar p
-Farid ma’ruf
-Fitri maghfiroh
-Novita sari
Sie. P3K : Andang widiatmoko
-Arum yuana
-Fitri handayani
-M. Natsir salasa
-Tri admoko
-Tri sutrisni

Kosmetik Politik Orde Baru



Kosmetik Politik Orde Baru
Oleh. Eka Herdi Nugeraha (Mahasiswa Jurusan PKnH)

Pemerintahan Presiden Republik Indonesia Soeharto merupakan pemerintahan terlama yang memimpin Indonesia. Awalnya Orde Baru merupakan jawaban atas permasalahan yang terjadi pada pemerintahan yang sebelumnya. Orde Baru mencoba untuk menerapakan Pancasila secara murni dan konsekuen. Imperium Orde Baru mulai berkuasa setelah pemerintahan Presiden Soekarno berakhir. Majelis Permusyawaran Rakyat Sementara menolak pidato pertanggungjawaban Soekarno pada tahun 1967. Letnan Jendral Soeharto menggantikan posisi Presiden Soekarno menjadi pejabat presiden Republik Indonesia. Apabila kita melihat pemerintahan Soekarno memang banyak penyimpangan yang terjadi seperti penetapan Soekarno sebagai presiden seumur hidup, tidak melaksanakan Pemilihan Umum, dan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pada akhir pemerintahan Orde Lama Kondisi perpolitikan Indonesia semakin buruk dengan adanya berbagai pemberontakan PKI, gerakan-gerakan subversif, dan memburuknya perekonomian Indonesia. Dengan berbagai masalah diatas menimbulkan banyak tuntutan dan demonstrasi dari rakyat Indonesia. Indonesia mengalami banyak kekacauan di berbagai daerah yang membuat Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret untuk memerintahkan Letnan Jendral Soeharto menguasai situasi keamanan pada waktu itu.

“Harapan Rakyat Indonesia”
Rakyat Indonesia telah menunggu lama adanya pergantian kekuasaan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Rakyat Indonesia menyambut baik pergantian kekuasaan ini karena penyelenggaraan demokrasi yang diimpikan oleh rakyat terwujud. Pergantian Kekuasaan merupakan salah satu instrumen demokrasi yang menjaga agar stabilitas negara dapat terjamin. Namun hal ini terkendala dengan egoism penguasa yang ingin terus mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai cara. Hal ini menimbulkan kemarahan rakyat dan membuat stabilitas politik terganggu. Puncaknya terjadi pada siding Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang memberhentikan Presiden Soekarno. Presiden Soeharto memulai pemerintahan dengan berbagai program-program pro-rakyat. Awal Pemerintahan Orde Baru, rakyat Indonesia sangat yakin dengan terobosan-terobosan yang dilakukan pemerintah Orde Baru. Pemerintahan Orde Baru membuka iklim investasi seluas-luasnya bagi investor asing. Sejak itu banyak investor asing yang masuk untuk menanamkan modal di Indonesia. Krisis ekonomi dan politik pada waktu itu mulai ada penyelesaian yang nyata. Rakyat Indonesia merasakan banyak perubahan positif dengan program-program yang diluncurkan oleh pemerintah Orde Baru. Pemerintah Orde Baru berusaha mengedepankan pembangunan ekonomi dan pembangunan infrasruktur secara besar-besaran. Hal ini terlihat dengan adanya program listrik masuk desa dan pembangunan waduk, sekolah, dan rumah sakit. Pada masa Orde baru Indonesia berhasil melaksanakan swasembada beras dan mampu mengekspor minyak ke luar negeri. Hal ini sangatlah positif untuk kemajuan Indonesia ke depan lebih baik. Masyarakat Indonesia sangat bahagia dengan kemajuan-kemajuan pembangunan yang dicetuskan oleh Pemerintahan Orde Baru.

“Pembodohan Rakyat”
Kemajuan-kemajuan yang dihasilkan oleh Pemerintah Orde Baru membuat masyarakat Indonesia menjadi terlena. Banyak terjadi kecurangan-kecurangan yang terjadi seperti memundurkan jadwal pemilihan umum dari tahun 1969 ke 1971, KKN, penyederhanaan partai, dan penafsiran UUD 1945 yang berbeda. Pemerintah Orde Baru membuat rakyat Indonesia tidak berdaya dengan berbagai kemajuan-kemajuan pembangunan yang signifikan namun dibalik itu banyak terjadi kezhaliman. Awal pemerintahan Orde Baru ada sebuah hal yang janggal yakni mundurnya Pemilihan Umum yang seharusnya dilaksankan pada tahun 1969 menjadi 1971. Hal ini terlihat bahwa adanya rencana-rencana khusus pemerintahan Orde baru untuk mengumpulkan kekuatan politik dalam menghadapi Pemilihan Umum. Banyak pihak yang menduga apabila Pemilihan Umum dilaksanakan pada tahun itu maka Soeharto sulit menang. Hal ini dikarenakan belum kuatnya kendaraan politik yang akan digunakan dalam Pemilihan Umum. Selanjutnya Penyederhanaan partai, dimana partai-partai nasionalis dilebur menjadi PDI, partai-partai religious dilebur menjadi PPP, dan ada satu lagi peserta pemilu tapi bukan partai yakni Golkar. Golkar menjadi kendaraan politik Pemerintah Orde baru dalam mengikuti setiap pemilihan umum. Golkar mempunyai mobilitas yang lebih tinggi dari dua partai kontestan pemilu yang lain yakni masuk lebih dalam di masyarakat. Hal ini berbeda dengan dua partai peserta pemilu lainnya yang tidak mempunyai akses seperti Golkar. PDI dan PPP hanya dapat masuk maksimal di daerah tingkat dua sehingga tidak mampu langsung menjangkau rakyat. Hal ini jelas mencederai demokrasi yang menjadi sistem politik negara Indonesia. Penyederhanaan partai yang dilakukan pemerintah Orde Baru membuat banyak kelompok aliran yang tidak memiliki keterwakilan karena memang terbatas pilihannya di Pemilihan Umum.

“Rusaknya Pemilihan Umum”
Pemilihan umum seharunya menjadi puncak berjalannya demokrasi di Indonesia. Pemilihan Umum harus dilaksanakan dengan langsung, bersih, jujur, dan adil. Hal ini benar-benar berbeda dengan kenyataan yang ada di Indonesia saat Orde Baru. Pemilihan Umum yang dilaksanakan Pemerintah Orde Baru sudah dapat dipastikan pemenangnya. Rakyat Indonesia sudah mampu memprediksi pemenang Pemilihan Umum. Walaupun usaha yang dilakukan sudah maksimal oleh peserta-peserta Pemilu selain Golkar namun yang tejadi tetap saja Golkar menang dominan dalam Pemilihan Umum. Hal ini mungkin juga diakibatkan pembatasan akses bagi partai politik non-Golkar dalam sosialisasi politik ke daerah-daerah. Hal ini tidak terjadi pada Golkar yang dapat akses lebih jauh kedalam masyarakat. Masyarakat awam mungkin hanya mengetahui Golkar sebagai peserta Pemilihan Umum yang baik. Oleh sebab itu Pemilihan Umum menjadi ajang dominasi Golkar dalam memperoleh suara rakyat. Pembatasan kekritisan rakyat Indonesia juga menjadi penyebab pemilihan umum rusak. Rakyat Indonesia menjadi lebih diam dengan keadaan nyata yang terjadi. Pemilihan Umum Orde Baru tidak menjadi sebuah pembelajaran politik bagi rakyat namun malah merusak tatanan demokrasi bangsa Indonesia. Untuk masa depan diharapkan perbaikan-perbaikan nyata mutu demokrasi Indonesia agar lebih baik dan tidak kembali ke sistem Pemilu Orde Baru yang buruk.

Pengurus 2014