Kamis, 25 September 2014

Lahirkan “Anak-Anak Ratu Adil” Melalui Film Edukatif Pancasila

Lahirkan “Anak-Anak Ratu Adil” Melalui Film Edukatif Pancasila
Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran
Tanah Jawa kalungan wesi
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang
Kali ilang kedhunge
Pasar ilang kumandhang
Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak
(Triharso,dkk, 2012)
Potongan bait diatas merupakan potongan bait dalam ramalan Jayabaya. Ramalan ini diciptakan oleh Prabu Jayabaya yaitu raja kerajaan Pamenang atau Kediri. Prabu Jayabaya ini meramalkan terkait kondisi moral masyarakat pada zaman kalabendu. Salah satu versi ramalan Jayabaya ini ditulis dalam naskah Serat Centini oleh Pujangga Kraton Surakarta, yaitu Ki Ranggawarsito.
Arti dari larik demi larik kalimat tersebut secara berurutan adalah kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda (mobil), Pulau Jawa berkalung besi (rel kereta), perahu berjalan di angkasa (pesawat terbang), sungai kehilangan mata air, pasar kehilangan suara (supermarket dan mall), itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat. Gambaran zaman Jayabaya ini dapat dimaknai sebagai era globalisasi atau zaman yang sedang kita lalui saat ini.
Lalu ada bait yang berbunyi akeh janji ora ditetepi (banyak janji tidak ditepati), akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe (banyak orang berani melanggar sumpah sendiri), manungsa padha seneng nyalah (orang-orang saling lempar kesalahan), ora ngendahake hukum Hyang Widhi (tidak peduli akan hukum Tuhan), barang jahat diangkat-angkat (kejahatan dijunjung-junjung), barang suci dibenci (kenaikan dibenci), akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit (banyak orang hanya mementingkan uang), lali kamanungsan (lupa kemanusiaan), dan lali kabecikan (lupa kebaikan). Bait ini menggambarkan jaman sekarang banyak pejabat yang melakukan korupsi, melanggar sumpah-sumpah yang telah diucapkan, serta mengagungkan uang diatas segalanya. Banyak orang yang berbuat baik, tetapi malah dibenci, orang yang berbuat jahat justru didukung, seperti halnya korupsi yang dilakukan bersama-sama oleh para pejabat yang sedang marak terjadi (Triharso,dkk, 2012).
Gambaran ramalan pada bait tersebut sama dengan apa yang sering disebut-sebut dengan krisis karakter saat ini. Krisis karakter ini sedang menyerang bangsa Indonesia dari segala penjuru yang didukung oleh derasnya arus globalisasi. Krisis karakter yang sedang melanda bangsa Indonesia ini ditandai dengan adanya berbagai tindak kekerasan, ketidakjujuran, mulai melunturnya budaya tata krama, melunturnya nasionalisme, dan sebagainya.
Salah satu contohnya adalah angka kekerasan di Indonesia tergolong tinggi. Hal yang lebih memprihatinkan lagi, kekerasan juga dilakukan oleh pelajar sebagai generasi emas penerus bangsa, antara lain tawuran pelajar. Tertulis dalam www.antaranews.com edisi 20 Januari 2013, Komnas Perlindungan Anak mencatat sepanjang 2013 ada 255 kasus tawuran antar-pelajar di Indonesia. Angka ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya, yang hanya 147 kasus.
Padahal, jika kita menengok pada ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, sudah jelas hal-hal semacam itu tidak akan terjadi. Bagaimana tidak? Dalam Pancasila sudah cukup jelas terkandung nilai-nilai luhur kepribadian bangsa. Pancasila yang dibentuk melalui proses panjang ini, merupakan perwujudan karakter yang diharapkan untuk dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, agar cita-cita besar bangsa ini tercapai.
Sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Perilaku yang sesuai dengan sila ini adalah memeluk satu agama, beriman kepada Tuhan YME serta menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Perilaku yang sesuai dengan perwujudan sila kedua adalah menjunjung tinggi hak orang lain, saling mencintai antar sesama manusia, tenggang rasa, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, tidak korupsi, serta bersikap adil. Sila ketiga yaitu persatuan Indonesia. Contoh perilaku yang sesuai dengan sila ini adalah mencintai tanah air dan bangsa, menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan serta keselamatan bangsa, serta bangga terhadap tanah air Indonesia. Sila keempat, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Dalam sila ini, diutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan. Sila ini juga mengajarkan demokrasi. Sila kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Nilai yang terkandung dalam sila ini antara lain bersikap adil, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak-hak orang lain, suka menolong, menghargai hasil karya orang lain, serta bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan (Rukiyati, dkk, 2008).
Sudah sangat jelas sikap-sikap yang seharusnya diterapkan sebagai implementasi kelima butir Pancasila tersebut. Akan tetapi yang masih menjadi pertanyaan hingga saat ini adalah mengapa ideologi sebagus ini tidak mampu diterapkan oleh bangsa Indonesia? Mengapa krisis karakter yang merupakan kebalikan dari apa yang diajarkan oleh Pancasila masih terjadi?
Sebenarnya telah banyak upaya pemerintah untuk mengajarkan nilai-nilai Pancasila kepada warga negara Indonesia. Salah satu langkah yang dinilai sangat strategis adalah melalui pendidikan. Berdasarkan kurikulum 2013, Pancasila diajarkan disemua jenjang pendidikan dan juga perguruan tinggi. Pada jenajng SD hingga SMA sederajad, pembelajaran pancasila termuat dalam mata pelajaran PPKN. Alokasi waktu yang diberikan setiap kali pertemuan adalah 2 jam pelajaran per minggu.
Sayangnya, pendidikan yang ada saat ini hanya mampu mencetak siswa-siswa yang mampu menghafal pancasila tanpa mengerti bagaimana harus bersikap seperti nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Pemandangan yang sudah sangat biasa kita lihat, setiap senin pagi anak-anak sekolah dengan sangat lantang mengumandangkan bunyi Pancasila. Akan tetapi ada yang setelah upacara bendera mereka membolos sekolah ataupun mencontek saat ujian. Hal-hal kecil seperti mencontek, membolos, dan tidak disiplin merupakan awal dari tindak-tindak kejahatan besar seperti korupsi yang sedang marak terjadi di Idonesia. Oleh karena itu, perlu ada metode pembelajaran yang membuat anak tidak sekedar menghafal, tetapi mengerti cara bersikap sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Kembali kepada ramalan Jayabaya, ada potongan bait yang merupakan kabar gembira bagi bangsa Indonesia. Dituliskan bahwa suatu saat nanti bangsa Indonesia akan mengalami zaman keemasan (Kalamukti) atau zaman kertayoga, yaitu jaman datangnya Ratu Adil. Pada masa ini rakyat akan sejahtera (nora ana wong nggresula kurang), keadilan ditegakkan (adil paramata, lumrahing arta), Ratu memerintah bukan untuk mencari harta, serta tidak ada lagi penjahat karena mereka telah takut (Tan ana durjana, dursila, pada tobat wedi wilating Ratu Adil ..... ). Ratu Adil ini memerintah semata-mata untuk kesejahteraan negara dan keselamatan seluruh dunia (karna ratu mung amrih kartaning nagara, raharjaning jagad kabeh). Dari potongan-potongan bait ini dapat disimpulkan bahwa Ratu Adil adalah orang yang baik, jujur, amanah, berbakti kepada Tuhan YME, menjunjung tinggi kebenaran, dan memiliki jiwa kesatria. Hal ini sesuai dengan apa yang diajarkan dalam nilai-nilai Pancasila (Triharso,dkk, 2012).
Bayangkan jika orang seperti ratu adil ini tidak hanya satu di Indonesia. Tentu negara ini akan aman, damai, dan sejahtera. Oleh karena itu, ratu adil harus melahirkan “Anak-Anak Ratu Adil”. Cara strategis agar terlahir “Anak-Anak Ratu Adil” ini adalah melalui pendidikan, dimana yang ditangani adalah anak-anak muda yang merupakan generasi emas penerus bangsa. Agar terlahir “Anak-Anak Ratu Adil” ini tentu tidak cukup dengan mengajarkan pancasila secara hafalan. Oleh karena itu, perlu suatu inovasi pembelajaran yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter pancasila kepada anak, salah satunya adalah melalui film “Anak-Anak Ratu Adil”.
Film “Anak-Anak Ratu Adil” ini dapat berupa film kartun maupun bukan. Awal dari film ini adalah pembacaan  butir-butir Pancasila serta perwujudannya. Selanjutnya film akan memiliki banyak tema-tema sesuai karakter baik. Setiap ada karakter sesuai Pancasila yang dilakukan oleh tokoh, maka akan ada tulisan sesuai dengan sila ke berapa. Misalnya salah satu tokoh sedang menolong tokoh lain yang sedang sakit, maka akan ada tulisan “tolong-menolong (sila ke 5)”. Film dapat dimainkan oleh beberapa tokoh dengan durasi 20 menit. Diakhir film akan ditayangkan beberapa bait serat Kalatidha, yang akan dijelaskan sedikit oleh guru nantinya.
Contohnya adalah film dengan tema “Anak Ratu Adil Penegak Kejujuran”. Dikisahkan ada seorang anak buta berjualan kue. Pada suatu hari, dua orang temannya mendatangi warungnya untuk membeli. Akan tetapi, salah satu anak mengambil 2 kue dan hanya membayar 1. Si buta ternyata selau menghitung kue dagangannya dan menyadari. Lalu mereka ribut dan anak satunya lagi mendamaikan dan memberikan nasihat tenatng keburukan dari berlaku tidak jujur.
Keuntungan pembelajaran film “Anak-Anak Ratu Adil” ini adalah dengan visualisasi murid akan lebih mudah menerima pelajaran, lebih mudah diingat dan menyenangkan, mampu mengajarkan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan pancasila, serta siswa mampu mengenal ramalan Jayabaya. Film ini cocok untuk anak-anak sekolah di semua jenjang, dengan cerita disesuaikan berdasarkan usia anak. Selain itu, film ini juga dapat ditonton anak kapanpun diluar jam pelajaran.
Ramalan Jayabaya merupakan gambaran masa depan bangsa Indonesia. Percaya atau tidak percaya, perlahan-lahan apa yang dituliskan pada ramalan Jayabaya ini terjadi pada bangsa Indonesia. Besar harapan Ratu Adil benar-benar akan datang sebagai solusi dari krisis karakter zaman kalabendu yang sedang terjadi. Ratu adil ini adalah orang yang memiliki sifat seperti nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, tentu negara ini akan lebih cepat maju jika memiliki banyak “Anak-Anak Ratu Adil”. Sebenarnya telah banyak upaya dilakukan untuk menciptakannya, salah satunya melalui pembelajaran disekolah. Akan tetapi, hingga kini masih bnyak anak yang menghafal pancasila namun tidak mengerti maknanya. Oleh karena itu perlu adanya inovasi pembelajaran, salah satunya melalui film “Anak-Anak Ratu Adil”. Harapannya pemerintah mendukung media ini dan membantu prokdusi film edukatif ini dalam skala besar untuk media penyampaian nilai-nilai karakter pancasila kepada siswa.

Referensi
Andarningtyas, Natisha. Tawuran Pelajar Meningkat. 2013. Diakses dari http://www.antaranews.com/berita/322987/tawuran-pelajarmeningkat.%20Diakses%2028%20januari%202013 (diakses 8 Maret 2014).

Rukiyati, dkk. 2008. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: UNY Press.

Triharso, dkk. 2012. Prosiding Kongres Pancasila IV: Srategi Pelembagaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menegakkan Konstitusionalitas Indonesia. Yogyakarta: Pusat Studi Pancasila UGM.


Biodata Penulis


1
Nama Lengkap                 :
Rita Suryani
2
Jenis Kelamin                   :
Perempuan
3
Program Studi                   :
Pendidikan  Matematika 2012
4
NIM                                  :
12301241015
5
Tempatdan Tanggal Lahir:
Sleman, 8 Juli 1994
6
Alamat                              :
Soman II, selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta
6
Email                                :
ritasuryaniuny@gmail.com