Sabtu, 11 Oktober 2014

Permainan Pancasila Puzzle Games Sebagai Media Pengembangan Karakter Anak

Permainan Pancasila Puzzle Games Sebagai Media Pengembangan Karakter Anak
*( Oleh Aji Dwianto

Abstract: Pancasila Puzzle Games as a Medium to Develop Children Character.
The concept of Pancasila consists of many noble values to learn and applied. Along with character education, the comprehension of Pancasila have to boosted in National Education development. Therefore, it’s important to create many innovative learning strategy. For children, Pancasilacan be taughtthrough a variety ofgames, includingPuzzle.Pancasila Puzzle Games can be a joyful  way to stimulate their intelligence and concentration. In such a way, their comprehension to Pancasila will developed and they become whole human beings who possess knowledge, skills, good heart, and sensitivity.
Keywords:pancasila, character building, puzzle.
Pendahuluan
Nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi atau falsafah terlahir dan telah membudaya di dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.  Nilai-nilai itu tertanam dalam hati, tercermin dalam sikap dan perilaku serta kegiatan masyarakat. Dengan kata lain, Pancasila telah menjadi cita-cita moral bangsa Indonesia, yang mengikat seluruh warga masyarakat baik sebagai perorangan maupun sebagai kesatuan bangsa (Poespowardojo dan Hardjatno, 2010).
Dalam kenyataannya, Karakter masyarakat Indonesia saat ini justrutelah bergeser dari nilai-nilai Pancasila, yang ditandai dengan melemahnya akhlak dan moral, kurangnya toleransi dalam kehidupan beragama, rasa kedaerahan sempit, kurangnya rasa kegotong-royongan, dan kurangnya rasa keadilan sosial di masyarakat.Hal tersebutdisebabkankarenamasyarakatkitahanya menerapkan pembelajaran itu sebatas teori tanpa aplikasi ke dalam kehidupannya.
Adanya globalisasi juga mengakibatkan paham-paham asingsemakinmudah masuk ke Indonesia dan menggeser Pancasila sebagai ideologi bangsa yang sebenarnya. Selain itu, budaya luar juga dapat dengan mudah mempengaruhikepribadian, khususnya generasi muda. Banyak sekali generasi muda yang menerima seutuhnya kebudayaan dari luar tanpa memilah-milah dan menyaring kebudayaan tersebut dengan cara menyesuaikannya dengan  kepribadian bangsa.
Di zaman modern seperti saat ini, masih banyak persoalan tentang penerapan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.Mungkin kita akan bertanya siapakah yang bertanggung jawab atas segala masalah tersebut atau mungkin dalam hal ini siapakah yang salah dalam mengkonsep pendidikan Pancasila di Negara ini?
Hasil survey yang dilakukan oleh harian Kompas, dan dirilis pada 1 Juni 2008, memperlihatkan pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila memang merosot tajam. Survei yang dilakukan Kompas pada tanggal 28 - 29 Mei Mei 2008 tersebut menunjukkan bahwa 48,4 % responden berusia 17 - 29 tahun menyebutkan kelima Pancasila salah atau tidak lengkap. 42,7 % responden berusia 30 - 45 tahun salah menyebutkan kelima Pancasila. Responden berusia 46 tahun ke atas lebih parah, yakni sebanyak 60,6 % yang salah menyebutkan kelima sila Pancasila.
Swanson dan Holton menyimpulkan organisasi belajar sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja dipengaruhi oleh faktor belajar, faktor stretegi organisasi obelajar dan faktor inovasi (Salma Dewi dkk, 2008). Maka diperlukan sebuah langkah nyata dalam upaya memperkuat nilai-nilai pencasila dalam kehidupan sehari hari. Mengingat generasi muda adalah generasi emas yang nantinya akan membawa negeri ini pada kemajuan. Pendidikan kewarganegaraan harus dapat memberikan pengalaman kepada generasi baru sesuai dengan kebutuhan perkembangannya (Zamroni, 2007: 151).

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui “Pancasila Puzzle Games”
Telah diketahui bersama bahwa Indonesia saat ini berada dalam tahap transisi perubahan kurikulum KTSP ke Kurikulum Baru 2013. Tentunya dalam mengoptimalkan kurikulum baru tersebut dibutuhkan komponen pembelajaran yang berkarakter sebagai tujuan utama pendidikan. Harapan besar bahwa Pancasila dapat menjembatani persoalan karakter bangsa. Maka penulis menggagas inovasi yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila, yakni Pancasila Puzzle Games.
Menurut Patmonodewo (Misbach, Muzamil, 2010) kata puzzle berasal dari bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang, media puzzle merupakan media sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang.
Puzzle merupakan permainan menyusun kepingan gambar sehingga menjadi sebuah gambar yang utuh. Dalam bermain puzzle membutuhkan ketelitian, anak akan dilatih untuk memusatkan pikiran, karena anak harus berkonsentrasi ketika meyusun kepingan-kepingan puzzle tersebut hingga menjadi sebuah gambar yang utuh dan lengkap (Pramudiati, Rezha: 2011).
            Dengan puzzle, anak-anak belajar memahami konsep bentuk, warna, ukuran dan jumlah. Tentunya bentuk puzzle yang digunakan lebih beragam dan mempunyai warna yang lebih mencolok. Memasang kepingan puzzle berarti mengingat gambar utuh, kemudian menyusun komponennya menjadi sebuah gambar benda. Cara anak menyelesaikan gambar utuh puzzle adalah dengan menggunakan metode coba dan ralat. Warna dan bentuk kepingan adalah dua hal yang diperhatikan anak saat memasang puzzle. Bermain puzzle melatih anak memusatkan pikiran karena ia harus berkonsentrasi ketika mencocokkan kepingan-kepingan puzzle. Selain itu, permainan ini meningkatkan keterampilan anak menyelesaikan masalah sederhana.Puzzle saat ini telah menjadi sebuah permainan yang digemari oleh anak-anak, terutama anak-anak yang ada pada usia pendidikan TK (Taman Kanak-Kanak) dan SD (Sekolah Dasar).
            Pancasila Puzzle Games merupakan terobosan baru untuk komponen pembelajaran nilai-nilai Pancasila bagianak-anak. Gambar padasetiapPancasila Puzzle Games menunjukan suatu fenomena yang terintegrasi terhadap beberapa sila dari Pancasila.
Puzzle yang dilengkapi dengan nilai-nilai Pancasila yang tercermin dalam gambarnya, diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini pun mampu dengan mudah diterima oleh anak di usia tersebut karena sifat dari media ini adalah permainan. Selain itu permainan ini juga sifatnya lebih kepada penangkapan visual anak dalam melihat gambar selain penalaran untuk menyusun puzzle. Kemampuan visual yang ada di dalam diri anak usia TK dan SD masih sangat peka dan akan diingat menjadi memori jangka panjang, karena anak dalam usia itu mempunyai kemampuan mengingat yang tinggi.

Langkah Strategis Dalam Mengimplementasikan “Pancasila puzzle Games”
Sebagai media pembelajaran yang interaktif dan edukatif,Pancasila Puzzle Gamessangat cocok diberikan untuk anak-anakusia TK maupun SD. Sebelum Permainan ini dijalankan, pendidik terlebih dahulu menjelaskan tujuan pembelajaran terhadap nilai-nilai Pancasila dan juga perlu menjelaskan gambaran umum Pancasila dalam kehidupan sehari-hari secara sederhana. Selanjutnya dalam menggunakan komponen tersebut perlu diketahui pula bahwa proses implementasi pada jenjang TK dan SD  berbeda. Pada jenjang TK permainan hanya dimainkan dengan menekankan nilai-nilai yang perlu ditanamkan pada anak usia dini pada jenjang TK sehingga belum begitu dijelaskan tahap dalam mengolah dan menafsirkan hubungan atas lambang, bunyi sila, dan implementasi secara menyeluruh. Sedangkan bagi siswa SD tentunya pembahasannya akan lebih kompleks sesuai kebutuhan pembelajaran dan kurikulum sekolah. Pada jenjang SD Pancasila Puzzle Games diterapkan dengan menjelaskan secara kontekstual esensi dari setiap sila dalam Pancasila melalui perwujudan sila beserta bunyinya dalam setiap fenomena kehidupan pada gambar Puzzle.
Pada hakekatnya, tujuandalam permainan Puzzle ini adalahmengoptimalkan pembelajarannilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari hari sehinggadapat terinternalisasi dan terinstitusionalisasi dalam proses operasionalnya. Selain itu demi menyongsong sekaligus mengukuhkan tujuan kurikulum 2013 maka nilai-nilai karakter perlu ada, sehingga diperlukan sebuah komponen yang pembelajaran yang terintegral dari nilai-nilai luhur bangsa.
Pada sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa” maka pada puzzle dapat digambarkan seseorang yang menunaikan ibadah, dapat pula digambarkan bangunanyang ada kaitannya dengan keagamaan seperti masjid, gereja, Kuil, vihara dll. Begitupun dengan sila kedua “ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” maka pada puzzle bergambarkan seseorang anak sekolah yang sedang membantu seorang Nenek menyeberang jalan atau sekelompok orang yang sedang membantu orang yang tertimpa musibah kebanjiran dan seterusnya hingga sila ke-lima.
Pada bagain belakang Puzzle disediakan berbagai nilai karakter yang sesuai dengan setiap sila dalam Pancasila. Namun nilai sikap tersebut baru boleh dilihat oleh anak ketika berhasil menyelesaikan Puzzle dengan baik. Kemudian yang harus dilakukan oleh seorang anak yakni mencontoh sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 
Adapun beberapa pihak yang membantu mengimplementasikan Pancasila Puzzle Games ini yakni para guru anak usia dini dan sekolah dasar yang tentunya menjadi pendidik di sekolah. Selain itu orang tua pun dapat ikut menjadi pelaksana gagasan ini di lingkungan rumah.  Mengingat waktu seorang anak di rumah cukup banyak yang memungkinkan orang tua dapat memberikan permainan tersebut. Lalu pihak bimbingan belajar di luar sekolah juga memiliki peran dalam membantu menerapkan permainan Pancasila Puzzle Games ini.

Penutup
Dalam menyongsong sekaligus menopang tercapainya tujuan kurikulum 2013, diperlukan sebuah komponen pembelajaran yang terintegral dari nilai-nilai luhur bangsa.Melalui pendidikan yang terintegrasi dan penuh inovasi maka akan mengantarkan Indonesia pada visi bersama bahwa implementasi kurikulum 2013 dapat menjadi langkah awal bangsa dalam menuju terciptanya pendidikan yang bermutu dan berkualitas serta berlandaskan  pada nilai-nilai luhur Pancasila yang memuat nila-nilai karakter berbangsa dan bernegara.
Melalui permainan Pancasila Puzzle Games, diharapkan terbentuk karakter seorang anak yang memahamidanmenghayati nilai-nilai Pancasila. Hal ini merupakan strategi pembelajaran yang ideal diaplikasikan pada anak usia dini dan jenjang pendidikan dasarsebagaisebuah strategi pembelajaran, yang merupakan komponen penting dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi belajar ( Gafur, Abdul, 2012).
Pada hakekatnya, tujuan dalam permainan Puzzle ini adalahmengoptimalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, sehingga nilai-nilai Pancasila dapat terinternalisasi dan terinstitusionalisasi dalam proses operasionalnya.